renungan
-

Berpikir tentang AI Generatif Sebagai Seorang Progresif: Sebuah Refleksi
Anti-teknologi. Kuno. Takut perubahan. Tidak mau maju. Tidak mau mengikuti perkembangan zaman. “Tidak ingat waktu komputer menggantikan mesin tik dan kamera membuat pelukis panik?” Di panggung-panggung utama, kritik terhadap AI generatif hampir selalu mendapat tanggapan ini. Ucapan-ucapan itu terasa intuitif bagi kalangan progresif, karena kita telah lama mengasosiasikan perubahan dengan kemajuan, dan maka perubahan —… Read more
-

Influencer, 17+8, dan Strategi Gerakan Rakyat
Setiap hari kita harus bangun di dunia dimana influencer menguasai ekosistem informasi. Aku harus jujur. Aku sedih bahwa dalam lokakarya menerbitkan buku, pembicara menghabiskan lebih banyak waktu bicara tentang memoles personal brand di dunia maya dibandingkan bagaimana memperkaya substansi. Bahwa di ruang-ruang redaksi, jurnalis pontang-panting merangkap jadi “content creators bisa-segala-medium” jika ingin bertahan. Aku sedih… Read more
-

Tentang Metafora Pisau dan Teknologi
Di setiap ajang diskusi kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital, panelis akan selalu berkata: teknologi adalah seperti pisau. Bisa digunakan untuk memasak, atau membunuh. Atau: teknologi adalah pedang bermata dua. Tentu saja maksudnya adalah jangan pernah salahkan pisaunya atau pedangnya. Pisau dan pedang tidak pernah bersalah. Mereka hanya benda mati. Sekilas, kedengaran masuk akal. Sepanjang… Read more
-

Memikirkan Ulang Arti “Canggih”
Taipei adalah kota canggih. Mungkin perlu dicontoh. Orang akan memandang gedung-gedung tua berumur enam puluh tahun yang berjajar di Taipei dan menganggapku gila. Kota itu cuma punya satu kecanggihan yang layak ditulis: sebuah pencakar langit bernama Taipei 101, yang menikmati titel gedung tertinggi di dunia selama lima tahun sebelum Burj Khalifa di Dubai menggeser posisinya… Read more
-

Ketika Wartawan Nimbrung
“Terima kasih, Pak, tadi bapak mewakili perasaan saya saat diskusi,” kataku antusias pada Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sesaat ketika ia baru beres menjadi satu dari enam pembicara di sebuah diskusi roundtable mengenai AI di St. Regis Jakarta, 26 Juni 2025. Wajah Edwin kelihatan bingung. Tak tahu… Read more
-

Menjadi Kembali
Dua minggu aku absen menulis blog ini. Minggu pertama karena aku ada di meja operasi, dan minggu kedua karena aku malas. Sebenarnya saat inipun aku masih malas, tapi kalau tidak memaksa diri, rutinitas tidak akan terbentuk kembali. Berhenti sebentar karena alasan kesehatan memang selalu membuat rutinitas acak adut. Dalam waktu bermalas-malasan ini aku sempat pergi… Read more
-

Aku Punya PhD di AI. Tolong Berhenti Tanya Cara Pakai ChatGPT
Antonia Timmerman menerjemahkan tulisan Sheilla Njoto, seorang ahli AI dari University of Melbourne. Tulisan asli Sheilla, berjudul “Stop asking me how to prompt ChatGPT: Reflections from a PhD in AI”, dimuat di blog pribadinya pada 4 April 2025. Jika kau hanya sibuk mengulik cara pakai ChatGPT, maka kau tak paham inti masalahnya. Jika kau hanya… Read more
-

Gig(gle) Economy
Akhirnya aku keluar dari hutan belantara memburu deadline dan bisa menulis blog ini lagi. Deadline itu mati tepat waktu lalu kugotong pulang untuk menyantap dagingnya. Pekerjaan riset lepas, kalau kau ingin tahu. Ya, beginilah sejak 2016 hingga sekarang. Kerja-kerja tak ada ikatan atau maksimum sebagai tenaga kontrak kecuali untuk periode hampir dua tahun pada 2018-2019.… Read more
ai, big tech, bill gates, blog, digital, gig economy, gojek, grab, indonesia, inspiration, kapitalisme, life, luddites, online driver, renungan, uber
