Anti-teknologi. Kuno. Takut perubahan. Tidak mau maju. Tidak mau mengikuti perkembangan zaman. “Tidak ingat waktu komputer menggantikan mesin tik dan kamera membuat pelukis panik?”
Di panggung-panggung utama, kritik terhadap AI generatif hampir selalu mendapat tanggapan ini. Ucapan-ucapan itu terasa intuitif bagi kalangan progresif, karena kita telah lama mengasosiasikan perubahan dengan kemajuan, dan maka perubahan — entah bagaimana bentuknya — selalu baik. Karena perubahan selalu baik pada akhirnya, maka perasaan kurang baik apapun yang kita rasakan sekarang di saat perubahan itu berlangsung tentu hanyalah kepanikan sementara. Pasti hanya kelemahan manusia yang kecil di hadapan kebesaran kemajuan zaman.
(Lagipula, be real, siapa yang ingin berlama-lama mengakui rasa sedih bahwa hidup kita sepenuhnya ada di tangan para techbro yang bergaji jutaan dolar per tahun itu? Sungguh, itu mental pecundang, kan? Di dunia ini, kita tidak bisa menjadi pecundang, atau kita akan mati di jalanan. Lebih baik kita cepat menelan kenyataan dan berusaha jadi pemenang. Ganti air muka melongomu itu dengan kepercayaan diri. Jangan biarkan dirimu terlihat gagap, tidak siap.)
Aku tidak tahu kecenderungan politik mereka yang suka mengatakan ini – apakah progresif atau yang lain. Secara umum, maksud mereka mungkin baik. Mereka ingin kita semua maju.
Tapi sebagai progresif yang juga seorang jurnalis, aku belajar untuk mengunyah apapun dengan hati-hati sebelum menelannya, termasuk perubahan. Tidak semua perubahan adalah progress. Mungkin ia adalah regress.
Semenjak melihat industriku — industri media — diobrak-abrik media sosial, ada hal-hal yang tidak bisa aku telan begitu saja. Seperti merasakan tulang ikan dalam mulut dan mengeluarkannya. Memang butuh latihan dan sedikit tidak tahu malu. Kalau kau sudah pernah tidak sengaja menelan tulang ikan sampai nyangkut di tenggorokan, kau juga akan lebih peduli tentang mengunyah perlahan dan cara efektif melepeh tulang daripada tampangmu atau tata krama meja makan.
Menurutku, melemahnya industri media dan jurnalisme bukan merupakan suatu kemajuan, melainkan kemunduran. Menurutku, sebuah peradaban yang maju seharusnya memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi berkualitas tinggi yang dijaga oleh seperangkat kode etik yang ketat, dan kemampuan untuk mengedarkannya secara merata dan adil. Itu tidak kita miliki sekarang.
Maka setelah aku mengunyah ikan bernama AI generatif ini dengan seksama, aku berpikir bahwa ia tidak boleh dibiarkan mengacak-acak tatanan yang sudah ada (yang bahkan belum selesai ditata (kembali) sejak disrupsi media sosial), dan mengulangi kesalahan kita dengan media sosial.
AI generatif musti diuji dan dibatasi sesuai peraturan. Ia tidak boleh diberikan keistimewaan, dibiarkan menerabas aturan, dan dilepaskan dari tanggung jawab untuk melindungi hak yang melekat pada manusia, tatanan sosial dan ekonomi, beserta alamnya.
Jika dengan segala ekspektasi itu AI generatif tidak dapat lanjut dibangun, maka mungkin ia memang tidak layak diteruskan. Lagipula AI generatif belum menjadi kenyataan se-menyeluruh media sosial, sehingga aku tidak tahu kenapa harus cepat-cepat ditelan. Seakan kita tidak boleh belajar dari gelombang-gelombang digitalisasi sebelumnya.
Memang ada paradigma yang sangat mengganggu, yang aku curigai sebagai hambatan utama kita untuk belajar dari masa lalu.
Mengatakan bahwa perusahaan teknologi harus memenuhi norma, standar, dan peraturan yang berlaku di dalam ranah engineering, hak cipta, ketenagakerjaan, produksi dan distribusi informasi, hingga pengadaan material untuk perangkat fisiknya, memang selalu dipanggil “anti-inovasi”, “anti-kemajuan”, dan “takut perubahan”.
Tuduhan ini sudah lama bergaung, paling keras di di era startup setelah Google dan Facebook, yakni di angkatan Uber, Gojek, Grab, dan e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee. Mabuk hype kebaruan teknologi salah satu biang keroknya, karena kebanyakan orang yang terlibat di pengembangan startup angkatan ini juga sudah menyaksikan “keajaiban” pertumbuhan Google.
Slogan mereka adalah: “Jangan sampai regulasi menghambat inovasi.” Slogan ini terus diulang-ulang, menciptakan paradigma bahwa sektor teknologi adalah sektor istimewa. Bisa diletakkan di atas kita semua dan tidak boleh “diganggu” regulasi. Slogan ini membuat siapapun yang meminta sektor teknologi taat aturan, dipandang kuno dan takut perubahan demi kemajuan bersama.
Terus terang tuduhan ini cukup menggelikan untuk seorang progresif seperti diriku. Bagaimana mungkin, setelah memandang dan memanggil diri sendiri seorang progresif, aku takut berubah untuk maju? Tapi, oke. Tuduhan itu akan kukunyah lagi. Apakah benar aku anti-teknologi, anti-kemajuan, dan enggan berkorban dan berubah untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih baik? Jangan-jangan aku memang kolot dan egois?
Kalau dipikir-pikir, aku bersedia membayar iuran BPJS untuk menanggung asuransi kesehatan mereka yang tidak mampu. Selama pandemi COVID-19, aku rela mengorbankan sedikit kenyamanan bergerak dan berbusana demi mengendalikan penyebaran virus. Aku juga bersedia membayar pajak lebih tinggi jika itu berarti layanan publik yang lebih baik. Aku rela mengantri demi ketertiban dan kenyamanan bersama.
Sebagai bagian dari masyarakat, tentu saja aku bersedia memberikan pengorbanan demi keuntungan bersama. Sebagai individu, aku bersedia berubah, berkorban, dan menyesuaikan diri — aku memberikan sesuatu demi mendapatkan suatu timbal-balik, baik offline maupun online.
Bukankah memang ini cara suatu masyarakat bekerja: masing-masing dari kita memberikan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu berupa kemajuan bersama?
Maka, tentu aku bersedia memberikan sedikit waktu, data, dan privasi – bahkan uang – untuk mendapatkan manfaat dari internet. Tapi ketika semakin lama aku harus memberikan sangat banyak, dan sebagai timbal baliknya aku mendapatkan industri media, jurnalisme, dan bahkan sastra megap-megap mau mati, tentu saja aku akan mulai bertanya: apakah ini adil? Ketika aku melihat ke sekeliling dan mendapatkan segala sudut kehidupanku diintrusi oleh perangkat-perangkat yang selalu, selalu, mengumpulkan data tentang diriku, aku mulai bertanya, apakah benar sebuah peradaban modern membutuhkan intrusi sekonstan ini? Apakah keletihan diawasi dan dimediasi mesin di SELURUH kegiatan kita merupakan kemajuan?
Ketika aku membaca laporan bahwa demokrasi di seluruh dunia melemah karena kualitas informasi yang terjun bebas, gangguan kesehatan mental pada remaja meningkat, polarisasi meruncing, pekerja digital dieksploitasi siang-malam, hampir tak adanya privasi yang tersisa, bagaimana layar telah menggantikan pengalaman badaniah dan hubungan personal, dan bagaimana kehausan akan data telah men-digitalisasi dan mengkapitalisasi hampir seluruh aspek kegiatan dan kehidupan manusia: percintaan, hiburan, seni olahraga, makanan, menghitung lama tidur, menghitung berapa langkah yang kau tempuh hari ini, menghitung berapa cepat detak jantungmu… – tentu saja aku mulai menginginkan agar perusahaan teknologi diatur dan di-regulasi sebagaimana perusahaan di sektor lainnya.
Cara berbisnis perusahaan teknologi telah menjadi semakin dan semakin liar. Kultur move fast and break things yang diekspor Silicon Valley, rumah banyak perusahaan raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Google, Microsoft, dan OpenAI yang jadi panutan banyak startup di Indonesia, menjadi pembenaran penerobosan norma dan aturan yang berlaku di banyak sekali sektor yang ingin “ditransformasi” oleh perusahaan teknologi.
Bahkan, investor-investor perusahaan teknologi sendiri mulai menyadari toksiknya hype berlebihan yang menyanjung-nyanjung produk teknologi tanpa kegunaan yang jelas, karena berujung pada maraknya fraud! Bayangkan, orang-orang berdasi dan bersepatu mengkilap itupun dikerjain juga.
Cukup lama waktu sudah berlalu semenjak ledakan media sosial di pertengahan 2000-an dan ride-hailing beserta e-commerce di 2010-an. Tapi, keuntungan akumulatif yang kita dapat dari digitalisasi besar-besaran ini, yakni membludaknya konten, keterhubungan, kenyamanan konsumen, dan kecepatan, makin lama makin tidak ditimbang secara jujur dan menyeluruh dengan pengorbanan akumulatif yang kita berikan.
Hari ini, hampir seluruh industri dan segala lapisan pendukungnya secara konstan ada di bawah komando manuver segelintir perusahaan di sektor teknologi digital. Apakah ini wajar? Bagaimana sebuah masyarakat dapat bergerak maju dan bertumbuh, jika setiap tahun ia harus menghamburkan tatanan sosial dan ekonomi-nya ke udara mengikuti mood segelintir perusahaan?
Bagaimana seorang progresif dapat mendukung sebuah kekuatan kapitalistik ekstrem yang terus menerus mendisrupsi tanpa memberikan kesempatan secuilpun untuk menata dan membangun? Masyarakat bisa menjadi ungovernable, hanya sibuk mengantisipasi “disrupsi” selanjutnya dari perusahaan teknologi, sembari terus dimiskinkan secara material maupun spiritual.
“…keuntungan akumulatif yang kita dapat dari digitalisasi besar-besaran…makin lama makin tidak ditimbang secara jujur dan menyeluruh dengan pengorbanan akumulatif yang kita berikan.”
Maka ketika AI generatif muncul, setelah mengikuti perkembangannya dari awal dan cerita-cerita penciptaan di baliknya, aku menyarankan agar ini menjadi momentum bagi semua orang untuk mengevaluasi kembali relasinya dengan pengembangan teknologi gaya kapitalistik ekstrem seperti dua dekade belakangan.
Bukan aku karena anti teknologi, tapi justru karena aku mengetahui bahwa peluang pencapaian teknologi kita dapat jauh lebih luas daripada AI generatif – jika diatur dengan benar. AI generatif bukan satu-satunya jalan yang harus diambil untuk mencapai kemajuan teknologi. Banyak sekali jenis AI lain, dan teknologi lain, yang tidak mendapat investasi riset karena mabuk kepayang dan hype pada AI generatif.
Memang di level individu, manfaat AI generatif bisa terasa sepadan dengan apa yang kita berikan. Ia bisa menjadi teman ngobrol yang menyenangkan, atau asisten cukup efektif untuk meringkas dokumen dan melakukan pencarian. Ia memang sangat membantu ketika menganalisa data dengan jumlah sangat besar.
Tapi kita harus zoom out dan menimbang manfaat-biaya (cost-benefit analysis) secara keseluruhan dan secara objektif. Aku berharap sebuah institusi yang punya lebih banyak pengetahuan, seperti negara, bisa tiba pada kesimpulan yang lebih berimbang. Negara (semua negara di dunia ini, bukan cuma Indonesia, karena ini pertarungan global) harus mampu menjadi mangkuk penampung semua kepentingan, bukan hanya kepentingan golongan tertentu.
Menurut catatanku, yang kita dapatkan dari AI generatif paling banyak sejauh ini adalah seni, konten, ringkasan, dan tulisan yang juga bisa dibuat oleh manusia. Sedikit tambahan kenyamanan. Pemotongan waktu, terkadang. Laporanku yang terakhir menunjukkan bahwa waktu yang dihemat untuk beberapa proses kerja tetap tidak menjadi milik pekerja; dan sebagian besar nilai tambah dari peningkatan produktivitas beberapa pekerjaan tidak masuk ke kantong pekerja.
Sementara, apa yang harus kita korbankan? AI generatif mencuri data dan karya tanpa penghormatan pada hak ekonomi dan hak cipta penghasil karya. Kesempatan kerja dan jumlah klien berkurang. Upah menurun. Nilai ekonomi gambar, tulisan, dan penampilan manusia semakin turun dengan meningkatnya keinstanan konten. Makna dan kepuasan kerja hilang. Guru kelimpungan mengajarkan anak cara berpikir. Sumber-sumber air dan energi dialihkan untuk menyalakan pusat-pusat data, di saat banyak negara di dunia sedang berusaha beralih ke energi bersih. Privasi? Selamat tinggal. Scam dan misinformasi makin susah dihindari. Belum lagi kekerasan seksual yang semakin canggih berkat deepfake.
Semua disrupsi menyusahkan ini berlangsung di tengah segudang masalah yang belum selesai kita bereskan dari era media sosial dan kondisi hyper-digitalisasi yang kuceritakan di atas.
Ketika kita menghitung semua yang telah kita berikan secara akumulatif, apakah pengorbanan ini sepadan dengan manfaat yang kita dapatkan? Apakah sedikit kenyamanan tambahan dan sedikit penghematan uang di level perusahaan sebanding dengan keterampilan, pemikiran, privasi (apapun yang tersisa), pekerjaan, upah, air, energi, otonomi… jiwa?
Utamanya bagi penulis dan jurnalis, pengorbanan untuk mendapatkan manfaat dari AI generatif bukan pertukaran yang adil. AI generatif akan semakin menurunkan nilai ekonomi sebuah karya tulis. Industri media bisa hancur total, dan industri sastra akan pura-pura hidup dengan mem-brojolkan buku-buku yang ditulis AI.
Di dunia dimana orang tidak dapat mencari nafkah stabil lewat menulis, maka hanya orang kaya yang dapat menulis cukup konsisten untuk didengar, kelihatan, dan dianggap serius. Memang itu sudah terjadi hari ini, namun seorang progresif macam apa yang ingin tren tersebut berlanjut, bahkan makin menjadi? Aku ingin lebih banyak kelompok pekerja dan kalangan marjinal jadi penulis sukses dan berpengaruh.
Semoga Siuman
Aku tidak tahu apakah segala kegilaan yang telah terjadi karena sedikit orang serakah penuh delusi di bidang teknologi digital ini akan berlanjut, dan apakah negara-negara di dunia akan segera siuman. Pada akhirnya, aku hanya seorang jurnal-is, maka tugas utamaku adalah mencatat. Ini catatanku: AI generatif dibangun di atas pencurian. Ia dibangun dengan merampas kekayaan intelektual tanpa memberikan kembali nilai ekonomi yang sepadan.
Sama seperti kakaknya, yakni algoritma yang sudah kita gunakan di berbagai platform digital selama ini, keuntungan apapun yang kau dapat di masa depan dari AI generatif berasal dari pengorbanan pekerja digital yang dibayar rendah di kondisi rentan. Jangan lupa warga kota-kota yang diambil listrik dan airnya tanpa persetujuan mereka.
Di masa depan, mungkin arti ‘kreasi’ dan ‘karya’ telah jadi berbeda bagi siapapun yang membaca catatan ini. Tapi ketahuilah bahwa hari ini pendapat banyak manusia tentang arti ‘kreasi’ dan ‘karya’ miliknya sendiri sudah dicemooh atas nama ‘perubahan’ itu.
Banyak filsuf menanggapi cara teknologi dikembangkan hari ini hanya sebagai eksperimen intelektual menarik tentang ‘arti menjadi manusia masa depan’. Bukan sebagai ancaman riil kapitalisme pada banyak sekali hak dan aspirasi manusia *saat ini*.
Di Indonesia, ada beberapa penulis dan tokoh progresif yang terkesan takut dilabel ‘konservatif’ jika mengkritik AI generatif. Dugaanku karena dulu kita sering mengolok boomers yang gaptek (duh, maaf), melekatkan sifat-sifat revolusioner pada anak muda yang diidentikkan dengan kefasihan teknologi, dan tentunya memandang perancangan teknologi sebagai proses netral yang bebas dari bias dan ambisi personal manusia. Bahkan aku pernah dipanggil “berlebihan” di saat mencoba menjelaskan soal dampak bisnis predatoris perusahaan teknologi.
Memang membicarakan teknologi bukanlah topik “aman” bagi kelompok progresif di sini. Kau mengambil resiko tinggi kelihatan kolot. Banyak hal yang belum pasti dan kemungkinan kau mengambil posisi yang ‘salah’ memang cukup besar.
Aku pun bisa salah. Tapi dari catatanku sejauh ini, aku cukup yakin bahwa perubahan yang sedang berlangsung adalah perubahan untuk kepentingan target triwulanan perusahaan raksasa teknologi yang terlalu berkuasa, alih-alih muncul dari kebutuhan dan inovasi organik masyarakat. Perubahan yang akan membawa kemunduran dan ketidakseimbangan lebih jauh.
Maka merambahnya kapitalisme dan neoliberalisme ke sudut-sudut lebih dalam di ranah kreasi, informasi, dan perawatan — tempat-tempat yang tadinya banyak orang pikir masih relatif lebih aman dari eksploitasi — berlangsung makin tanpa suara dan tanpa perlawanan berarti dari kelompok progresif.
Yang jelas, di titik ini, persoalan teknologi bukan agenda utama banyak kelompok progresif. Padahal, persoalan ini punya dampak sangat besar pada banyak sekali agenda-agenda prioritas kelompok progresif lainnya, seperti demokrasi dan krisis iklim.
Tentu saja, ini bukan sepenuhnya salah mereka. Sangat sulit untuk memobilisasi perhatian ke sebuah isu yang selama ini dipandang sangat niche (padahal tidak), atau dipandang sebagai sebuah kenyataan zaman yang tidak bisa diapa-apakan lagi.
To be fair, kelompok-kelompok seperti Serikat SINDIKASI mulai mengadakan diskusi untuk membicarakan dampak AI generatif pada angkatan kerja. Akupun sempat membantu Dewan Kesenian Jakarta mengadakan diskusi serupa. Kolektif seperti PurpleCode berusaha mengumpulkan pengetahuan dan kesadaran tentang cara pembangunan teknologi alternatif. Juga ada SAFEnet yang kerap menangani kasus-kasus pelanggaran hak digital. Pun sebenarnya banyak peneliti di Indonesia yang bisa dikutip sebagai narasumber yang dapat menjelaskan dengan lebih baik persoalan teknologi kita hari ini, dan dunia tidak kekurangan ide tentang pengembangan teknologi yang lebih baik.
Tapi perjalanan masih sangat, sangat jauh. Untuk meregulasi sektor teknologi, kita butuh kehadiran negara. Sejauh ini belum ada pengorganisiran berarti dari kelompok progresif yang dapat mempengaruhi kebijakan negara secara signifikan.
Banyak dari kelompok progresif juga enggan bekerja sama dengan kelompok lain, apalagi mendukung upaya-upaya yang dilakukan kelompok lain untuk membangun kekuatan alternatif yang dapat mempengaruhi kebijakan.
Aku berharap keengganan ini dapat semakin terkikis, karena memang kebutuhan kita sangat mendesak. Kita harus bersedia (dan punya kemampuan) untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain.
Semoga kita berhasil. Semoga kita cepat siuman.
Leave a comment