Taipei adalah kota canggih. Mungkin perlu dicontoh.
Orang akan memandang gedung-gedung tua berumur enam puluh tahun yang berjajar di Taipei dan menganggapku gila. Kota itu cuma punya satu kecanggihan yang layak ditulis: sebuah pencakar langit bernama Taipei 101, yang menikmati titel gedung tertinggi di dunia selama lima tahun sebelum Burj Khalifa di Dubai menggeser posisinya di 2009.
Kini, Taipei lebih dikenal dengan nenek-nenek yang berjalan lambat-lambat di bawah pohon-pohon rindang, grup taichi di taman-taman kota, mie daging sapi yang lezat, koin fisik yang masih dipakai dimana-mana baik di bus umum maupun di warung, dan sepeda-sepeda yang berseliweran.
Canggih, kau bilang?
Aku berusaha memberitahu orang-orang tentang transportasi publik yang bermacam-macam bentuknya, dan bagaimana mereka semua menyambung dan disambung ke satu sama lain dengan mulus. Tentang senangnya bersepeda kemana-mana di kota Taipei. Murah, mudah dijangkau, sangat bergaya. Seperti di film-film. Siapa tahu kau ketemu jodoh saat bersepeda di pinggir sungai. Romantis, bukan?
Kalau kau tak punya sepeda, maka kau bisa meminjam satu dari sekian banyak sepeda kuning-oranye milik Youbike, sebuah layanan sewa sepeda yang dikembangkan pemerintah Taipei dan perusahaan lokal. Stasiun Youbike tersebar di seluruh kota, dan kau bisa mengambil dan mengembalikannya secara mandiri, dibantu aplikasi.
Hujan sering turun di Taipei, tapi kau tak perlu khawatir, karena gedung-gedung tua pendek itu memiliki struktur langit-langit yang menjorok ke tempat pejalan kaki, sehingga kau bisa berjalan cukup sebelum membuka payungmu sebentar dan berlindung lagi di bawah langit-langit gedung blok berikutnya. Begitulah orang dapat berjalan jauh saat musim hujan di Taipei.
Demikianlah, aku merasa Taipei adalah kota canggih. Ia dibangun agar manusia dapat tinggal dan bergerak di dalamnya. Apa yang sudah bekerja dengan baik, tak perlu dibongkar. Apa yang belum bekerja dengan baik, diperbaiki lewat perubahan sistem, pengenalan jasa, produk, atau teknologi yang bukan berniat untuk mendominasi, melainkan untuk melengkapi.
Kecanggihan bukan selalu kebaruan, kemutakhiran, atau kebesaran.
Namun, jika kau melipir ke diskusi-diskusi mengenai AI hari-hari ini, kau akan menemukan definisi kecanggihan yang dapat ditebak: kompleks, tinggi, misterius, sulit untuk dijelaskan, selalu paling besar, selalu paling baru, dan selalu disematkan pada apa yang disebut “teknologi”. Yang bukan dianggap sebagai “teknologi” biasanya tidak canggih.
Ada sensasi magis yang kau rasakan ketika mendengar tentang “teknologi-teknologi canggih” yang bernama robot, kecerdasan buatan, dan mesin-mesin pintar ini.
Sensasi seperti takut tapi penasaran, kagum namun khawatir, dan diam-diam atau tidak, kau ingin mengendalikannya. Kau ingin mencicipi janji hadiah kekuatannya.
Begitulah cara AI didiskusikan di forum-forum hari ini. Begitulah doktrin “kecanggihan” ditanamkan di kepala dan hati kita, karena dengan begini, siapa yang dapat menolak keinginan untuk menjadi tuan kecanggihan dan tuan teknologi, dan akibatnya menjadi manusia paling mutakhir, kota paling baru, negara paling kuat, dan peradaban paling mengagumkan untuk ditulis di buku sejarah, seperti yang dijanjikan bisikan itu?
Ursula Le Guin, penulis sci-fi dan fantasi legendaris itu, pernah mengatakan bahwa ‘teknologi’ sebenarnya adalah interface aktif manusia dan dunia nyata. Ia sejatinya adalah pengalaman manusia.
“But the word is consistently misused to mean only the enormously complex and specialised technologies of the past few decades, supported by massive exploitation both of natural and human resources,” tulis Le Guin dalam sebuah catatan pendek berjudul “A Rant about Technology”.

Nenek Le Guin memang salah satu pengaruh terbesarku dalam berpikir. Kadang aku merasa aku menyerap pendapat-pendapatnya tanpa sadar, dan mengulanginya tanpa sadar pula.
Aku menemukan catatan Le Guin dari 2005 itu saat mengubek-ubek lagi tulisannya di internet setelah muncul sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan. Aku terus teringat pada Le Guin dan merindukannya ketika aku membaca dan menghadiri diskusi-diskusi mengenai perkembangan AI saat ini. Apa coba, hubungan AI dan Le Guin? Mungkin aku ngawur. Tapi, ternyata benar saja.
“We have been so desensitized by a hundred and fifty years of ceaselessly expanding technical prowess that we think nothing less complex and showy than a computer or a jet bomber deserves to be called “technology” at all…” tulis Le Guin lagi di catatan yang sama.
Bukan hanya Le Guin mengomel tentang teknologi dengan gamblang sejak dua puluh tahun lalu, ia juga konsisten mengkritik Google dan Amazon yang pelan-pelan tapi pasti menjajah dunia kepenulisan.
Sekarang, coba bandingkan dengan cara berpikir para lelaki kaya di Silicon Valley itu. Coba lihat cara miliarder teknologi memaknai dan merespons kecanggihan teknologi, seperti dijabarkan oleh jurnalis Karen Hao di bukunya yang berjudul Empire of AI:
“As the two men sat in the canteen, surrounded by the sounds of massive rocket parts being transported and assembled, Hassabis (Demis Hassabis, the professiorial CEO of Deepmind Technologies) raised the possibility that more advanced AI, of the kind that might one day exceed human intelligence, could pose a threat to humanity. What’s more, Musk’s fail-safe of colonizing Mars to escape would not work in this scenario. Superintelligence, Hassabis said with amusement, would simply follow humans into the galaxy. Musk, decidedly less amused, invested $5 million in DeepMind to keep tabs on the company.”
“Kecanggihan”, bagi Elon Musk dan Demis Hassabis, adalah kekuatan yang dapat mendominasi dan mengkolonialisasi. “Mengalahkan manusia”. “Menduduki Mars”. Inilah makna kecanggihan bagi para pengembang dan pendana di Silicon Valley, para pembuat alat-alat AI yang sering kita pakai hari ini.
Dengan mudahnya, Musk melempar uang sebanyak lima juta dolar seperti uang receh untuk mendukung pengembangan AI, hanya karena dia habis ngobrol ngalor ngidul soal angkasa dan robot bersama konconya.
Gagasan soal kecanggihan sebagai alat dominasi yang kompleks, yang harus ditaklukkan sesegera mungkin untuk menikmati manfaat baiknya inilah yang menyebabkan AI generatif dapat lahir, dikembangkan, dan dipasarkan secara meluas.
Pedang bermata dua. Kau tahu kan, bagaimana frasa ini selalu dipakai untuk teknologi yang dicap “berguna tapi berbahaya”? Itu karena kecanggihan, atau teknologi, selalu dianggap sebagai kekuatan magis yang meminta tumbal. Kekuatan magis berbahaya ini harus dan musti kita pakai, karena kita tidak boleh ketinggalan manfaatnya. Gagasan-gagasan inilah yang selalu ditanamkan kepada kita agar kita – tanpa punya banyak pilihan lain – segera mengadopsi alat-alat automasi di semua aspek kehidupan kita meskipun kita mengetahui risikonya.
Kalau saja kita dapat mengubah paradigma kita tentang kecanggihan, kita tidak perlu membrojolkan alat atau teknologi termutakhir setiap tahun hanya supaya dipanggil canggih. Kita dapat aktif memilih dan merancang bentuk alat dan teknologi kita sesuai dengan kebiasaan dan cara hidup kita mengalir.
Karena ia bukan suatu kekuatan magis yang kompleks, ia dapat berupa sederhana, murah, mudah dijangkau, dan tidak mendisrupsi. Mungkin ia juga bisa mengisi hidup dengan rasa dan keindahan.
Dan karena ia bukan alat dominasi, maka ia dapat menjadi berguna saja. Ia hanyalah pedang bermata satu. Basic.
Dalam sebuah pidato saat menerima medal penghargaan pada 2014, Le Guin berkata:
“I think hard times are coming when we will be wanting the voices of writers who can see alternatives to how we live now and can see through our fear-stricken society and its obsessive technologies. We will need writers who can remember freedom. Poets, visionaries—the realists of a larger reality.“
Maka disinilah aku, tidak takut. Dan disinilah aku, bersama dengan semua pendahuluku dan kawan-kawanku sekarang dan anak-anak kita nanti, merajut ulang arti kecanggihan.




Leave a comment