Ketika Wartawan Nimbrung

Written by:

“Terima kasih, Pak, tadi bapak mewakili perasaan saya saat diskusi,” kataku antusias pada Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sesaat ketika ia baru beres menjadi satu dari enam pembicara di sebuah diskusi roundtable mengenai AI di St. Regis Jakarta, 26 Juni 2025.

Wajah Edwin kelihatan bingung. Tak tahu bagaimana harus bereaksi. Seakan-akan mengatakan: Apakah ada pertanyaan, mbak?

Oh ya, aku lupa. Aku ini wartawan. Kami sedang mau doorstop. Tugasku adalah mengajukan pertanyaan lalu mendengarkan jawaban dari narasumber, bukan nimbrung. Bukan berekspresi.

Aku mengeluarkan handphone untuk merekam, dan Edwin mulai bicara layaknya pejabat. Diplomatis. Berhati-hati. Menyenangkan semua pihak.

Sebentar. Sebentar.

Tadi di dalam ruangan saat diskusi bersama lima pembicara lain, menggunakan Bahasa Inggris, Edwin dengan berani mempertanyakan perihal ketergantungan masyarakat pada teknologi seperti AI generatif. Juga perihal akuntabilitas pengambilan keputusan menggunakan AI. Cukup konsisten Edwin menyampaikan pandangan yang berbeda dibandingkan pembicara lain, dan dia adalah satu-satunya pembicara yang berani berbeda.

We were just fine before AI,” kata Edwin di hadapan Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy APAC di OpenAI, yang juga duduk di meja diskusi tersebut.

Diskusi itu terbuka untuk disaksikan seluruh undangan acara. Wartawan termasuk di dalamnya.

Namun, di luar ruangan, berbicara pada empat atau lima wartawan, Edwin kembali menjadi tipikal pejabat yang normatif. Tidak menantang siapapun untuk berpikir, tidak mengundang dan jelas tidak terbuka untuk pertanyaan sulit. Seakan ada tombol switch.

Aku sangat kecewa bahwa sedikit kejujuran yang tampil di dalam diskusi – yang memang, sih, pada dasarnya adalah sebuah pertunjukkan – menguap begitu saja ketika secara sadar Edwin berbicara kepada wartawan.

Mungkin dia mengira wartawan Indonesia tidak bisa ber-Bahasa Inggris? Mungkin dia mengira kami tak paham topik cukup dalam, sehingga harus dijelaskan lagi dengan bahasa luar biasa hambar? Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya berprasangka. Mungkin Edwin sudah lelah dan hanya ingin cepat-cepat pulang.

Yang jelas, dari pengalamanku hadir di acara-acara hotel bintang lima selama dua belas tahun sebagai wartawan, para orang penting umumnya memang hanya akan bicara dengan sesama orang penting. Tidak semua. Pada umumnya. Dengan demikian, wartawan hanya bertugas memotret dan jadi juru tulis orang penting.

Sedikit keterusterangan (candidness) yang sangat jarang ditemui di acara-acara formal demikian pun, harus disimpan untuk mereka yang dipandang setara saja. Wartawan, dan karenanya masyarakat umum, hanya bertugas untuk mendengarkan. Bukan nimbrung.

Silakan, ini kopi dan tehnya, yang bisa kau nikmati di atas karpet tebal di ruangan dingin ini. Tapi jangan nimbrung.

Ya, masyarakat luas tidak diharapkan untuk nimbrung. Ini tongkrongan orang penting. Berpendapat dan berpikir, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, hanyalah tugas para direktur, para kepala ini dan itu, para CEO, para pengusaha, dan para pejabat. Masyarakat hanya akan di-update setelah seluruh proses ini selesai.

Itulah arti menjadi publik hari ini.

Aku diingatkan lagi bahwa semua ini teater. Kita punya peran dan tempat masing-masing, dan jangan sampai kita lupa tempat.

Karakter utama, yakni para orang penting, bisa bicara tentang apa saja dan tentang siapa saja: Transformasi kesehatan. Transformasi edukasi. Transformasi ekosistem informasi. Sementara karakter pinggiran, seperti guru, tenaga kesehatan, dan pekerja media, hanya boleh menunggu keputusan para orang penting ketika keputusan itu sudah jadi.

Sebagai contoh, pekerja media terus tergerus dan diharapkan untuk “beradaptasi” dengan “disrupsi”. Tentu saja tanpa ditanya pendapatnya tentang apakah disrupsi ini dibutuhkan atau tidak, dan apakah benar membantu masalah industri media atau justru menambah masalah yang tidak diinginkan.

Aku tadinya berpikir kita dapat merancang dan mengatur apa saja, baik dari sisi teknologi maupun regulasi. Ternyata tidak begitu cara dunia ini bekerja. Uang berkuasa dan ia pakai kostum berjudul “kemajuan”. Segala hal dapat dihamburkan ke udara dan kita hanya perlu memanggil dia “inovasi”.

Maka newsrooms terus mengecil. PHK perusahaan media dimana-mana, sementara jumlah influencers meningkat. Dan jangan bilang aku merendahkan profesi influencers. Jelas ini bukan soal siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah. Tapi coba bayangkan ketika seluruh informasi-mu didapat dari orang atau wadah yang musti tunduk pada algoritma belaka.

Di dunia yang lebih adil, tidak ada yang harus tunduk pada algoritma. Kita berkreasi karena kita ingin, bukan karena algoritma mengatakan itu akan laku dilihat. Kita menulis karena tulisan ini merupakan buah pikiran kita, bukan karena ingin memanen jumlah klik. Kita menghibur karena hiburan itu relevan dan sedang dibutuhkan masyarakat, bukan semata karena sedang nge-tren.

Itulah cara menghasilkan informasi, pengetahuan, dan hiburan yang berkualitas.

Tapi pendapat semacam ini akan terdengar kelewatan jika diucapkan di acara-acara hotel bintang lima milik orang-orang penting. Karena bagi mereka, “disrupsi” adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Sesuatu yang bukan dalam kuasa mereka. Sesuatu yang tak dapat ditolong lagi.

Maka aku hanya dapat memandang sepatu hitam mereka yang mengkilap. Jas mereka yang mulus. Pengawal-pengawal mereka yang lari pontang-panting. Orang-orang tidak penting yang berjalan cepat kesana kemari memastikan para orang penting sampai di venue tepat waktu, bicara tepat waktu, dan pergi tepat waktu. Orang-orang tidak penting yang memanggul kursi-kursi untuk mereka, para orang penting. Aku membaca deret jabatan mereka, para orang penting. Gelar-gelar mereka. Mendengarkan untaian kata “miliar” dan “triliun” dan “negara” dan “bangsa” dan “masa depan” keluar dari mulut mereka, para orang penting.

Aku jadi bingung. Apakah mereka sesungguhnya punya kuasa atau tidak berdaya? Apakah mereka sesungguhnya besar atau kecil? Apakah jabatan mereka ada artinya atau hanya pajangan? Apakah mereka orang penting, atau tidak penting?

Karena di dunia mereka, dimana sepatu mengkilap berkumpul dan jabat tangan terlihat sempurna dan terlatih, segala sesuatunya “tak dapat dihindari”. Lalu apakah mereka decision makers, pembuat keputusan, atau decision followers?

Demikianlah aku misuh-misuh sendiri di luar acara. Karena yang pasti itu bukan tongkronganku. Bukan tongkrongan kita, masyarakat. Kita tidak bisa nimbrung.

Lo tuh, ga diajak.

Langganan?

Aku akan mengabarimu tiap kali ada tulisan baru. Gratis dan akan selamanya gratis :|

Leave a comment