Alat-alat AI generatif seperti ChatGPT, Dall-E, dan Midjourney, modal-modal besar di baliknya, dan geger polemik yang mereka bawa seakan memanggil kita: bangun, bangun! Kau telah menyaksikan tirani modal pamer otot dan menerimanya begitu saja.
Bangun. Jangan takut dituding anti-progres, atau anti-kemajuan. Kita bukan orang bodoh. Kita tahu apa yang kita bicarakan. Kita telah mengalaminya berulang kali. Ini saatnya berbuat sesuatu.
Ini tentang kesemena-menaan pengembangan teknologi yang satu arah, diktatorial, didominasi modal besar, tanpa negosiasi, dan selalu membutuhkan “pengorbanan” kelompok rentan.
Jika seseorang ingin membuat lukisan dari materi misterius yang diekstrak dari udara kosong, itu sah-sah saja. Tapi kita mesti keberatan kalau demi mendapatkan materi istimewa itu, ia harus membangun mesin yang mencemari udara, mempekerjakan pekerja mesin seperti budak, dan mengambil rancangan-rancangan mesin orang lain tanpa izin hingga mereka bangkrut.
Seseorang itu lalu mengatakan bahwa kegiatan ekstraksi materi baru dari udara kosong ini adalah sebuah pencapaian saintifik yang mengagumkan, maka dari itu ia adalah sebuah keniscayaan, sebuah “perkembangan zaman yang tak dapat dihindari”, dan harus terus dilanjutkan. Semua harus memberikan karpet merah.
Itulah pembangunan AI generatif saat ini, yang eksistensi dan keberlanjutannya membutuhkan pelanggaran hak ekonomi seniman, perusakan lingkungan, dataset yang bias terhadap kelompok marjinal, eksploitasi pekerja digital, dan pengorbanan mata pencaharian jutaan pekerja kreatif.
Mengapa sebuah teknologi yang pembuatannya membutuhkan pelanggaran hak-hak manusia dan alam, dipaksakan harus ada hanya karena ia merupakan sebuah pencapaian saintifik?
Bukankah teknologi itu buatan manusia — bukan Tuhan ataupun takdir — maka jika sebuah teknologi kurang cocok dengan kondisi riil, dapat juga manusia ubah, rancang ulang, atau tinggalkan sesuai kehendak maupun kebutuhan kita?
Mengapa pengembang selalu menciptakan teknologi sebagai “pedang bermata dua”, dan bukannya pedang dengan gagang yang aman dan nyaman dalam genggaman, supaya kita bisa memakai pedang itu tepat guna tanpa terluka?
Upaya mempertanyakan hal-hal mendasar demikian akan selalu dianggap bodoh oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Meta – para penyokong AI generatif – yang mengutamakan kepentingan pemodal. Itulah dunia kita, dunia kapitalis. Tak ada waktu untuk berpikir ulang, nanti mereka kehilangan uang.
Kita telah mengalaminya berulang kali. Ingat-ingat gelombang digitalisasi sebelumnya. Ingat media sosial dan ride-hailing: kita telah melihat bagaimana kritik dan upaya regulasi selalu dipadamkan dengan cemooh “anti-kemajuan”, atau “menghambat inovasi”. Perusahaan teknologi lokal dan regional seperti Gojek dan Grab meniru model bisnis Big Tech dan bahkan mendapat dana darinya. Maka mereka turut menganut agama anti kritik ini.
Berkat hegemoni kultur Big Tech dan Silicon Valley di dunia, pengembangan teknologi bergaya “cepat dan rusakkan” demikian telah diterima begitu saja dan tak dipertanyakan ulang.
Akibatnya, nasib ribuan ojol yang dieksploitasi pengembang aplikasi tak kunjung menemukan titik terang, sementara hancurnya ekosistem informasi dan demokrasi di berbagai negara akibat media sosial dimaklumi begitu saja sebagai konsekuensi dari perkembangan zaman.
Tanpa berpikir dua kali, kita menerima semua eksploitasi dan kerusakan itu. Kita dicekoki doktrin bahwa itulah harga yang pantas dibayar untuk manfaat ekonomi digital yang menawan. Sementara, para pemodal teknologi itu dapat membeli kapal yacht terbaru.
Maria Ressa, jurnalis asal Filipina pemenang Nobel, dibuat sadar akan kesemena-menaan Big Tech ketika ia berkutat melawan misinformasi daring di negaranya. Kini, Maria Ressa tak hanya bicara mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, ia juga melontarkan kritik-kritik tajam pada Big Tech yang sudah menyobek-nyobek realita bersama lewat algoritma media sosial, dan bahkan memanggilnya “terorisme Big Tech”.
Big Tech akan selalu mencipta teknologi sebagai “pedang bermata dua” karena sebagaimana perusahaan berwatak neoliberal dan fasis (diagnosa ini telah dicetuskan para ahli sejak 90an), mereka tak peduli upah jatuh, hilangnya pekerjaan, manusia kecanduan, demokrasi rusak, udara kotor, atau sungai kering, jika itu artinya mereka dapat menjual produk teknologi secepatnya, demi untung sebesar-besarnya, pengaruh seluas-luasnya, dan dominasi sekuat-kuatnya.
Pedang bermata dua. Selalu pedang bermata dua. Jika kau terluka, itu karena kau tak cakap memakainya. Kita muak dengan pedang-pedang bermata dua.
Big Tech akan selalu meredam protes dan pertanyaan kita dengan mengetuk papan bertuliskan “ekonomi” dan “adaptasi saja lah!”. Dogma dari Big Tech itulah yang menciptakan dunia saat ini dimana kritik terhadap teknologi diejek sebagai “anti-kemajuan”.
Sungguh mengkhawatirkan jika teknologi tak boleh kita tanggapi dalam-dalam secara kritis, tak dapat kita telaah dari berbagai aspek, pikir ulang, uji, ubah, dan ragukan, layaknya segala hal lain dalam hidup. Bukankah itu kegiatan ilmiah (dan artistik!) yang sesungguhnya?
Analisa mendalam tentang industri teknologi jarang menarik perhatian media lokal, yang sebagian besar hanya menulis tentang produk terbaru berdasarkan keterangan pers perusahaan. Diskusi literasi digital biasanya hanya terbatas pada literasi penggunaan alat digital dan “peluang”, sementara regulasi hanya tampak seperti memitigasi dampak-dampak paling buruk saja, supaya tak terlalu seperti anjing lepas.
Bukankah kita menginginkan bentuk pengembangan teknologi lain, yang lebih adil dan tak merusak, yang tak membutuhkan “pengorbanan” kelompok rentan demi kenyamanan masyarakat urban? Teknologi yang tak hanya didominasi modal besar?
Ya, teknologi yang memang sudah aman dari sananya. Teknologi yang tak hanya diukur kesuksesannya berdasarkan janji-janji “peluang baru” (yang terkadang dilebih-lebihkan atau dibuat-buat), tapi juga berdasarkan ketepatgunaan-nya sesuai kebutuhan saat ini, yang dapat diukur dan dievaluasi.
Maka, bangun.
Mungkin, teknologi tak harus terus mendisrupsi. Teknologi juga dapat merawat. Mungkin, harus ada ruang untuk ragam rasa dan sudut pandang tentang bagaimana pengembangan teknologi seharusnya bergulir.
Klaim-klaim khasiat dari perusahaan teknologi perlu dipertanyakan, diuji, dan divalidasi layaknya kebijakan publik. Layaknya kegiatan ekspansi perusahaan batubara, nikel, sawit, dan entitas-entitas sektor strategis lainnya.
Kita harus merebut kembali kedaulatan atas teknologi. Berpikir kritis tentangnya adalah langkah awal. Inilah literasi, dan inilah kunci kreasi. Jangan mau lagi dibohongi.
Kita ingin teknolog-teknolog kita terbebas dari jeratan doktrin keserakahan, keangkuhan, dan ikut-ikutan. Kita ingin para teknolog bangsa menciptakan teknologi yang aman, nyaman, dan tepat sasaran, tanpa melanggar hak-hak manusia dan lingkungan.
Kita ingin bebas, maka kita harus bangun.




Leave a comment