Awas spoiler.
“However, I’ve been contemplating how can we use this abomination for our common economic benefit.”
Hahaha. Aku memenuhi undangan sutradara Bong Joon Ho untuk tertawa datar.
Kalimat itu diucapkan oleh seorang politisi berkulit oranye (Mark Ruffalo) yang sedang bicara tentang teknologi percetakan tubuh manusia. Ya, tubuh manusia. Dicetak. Robert Pattinson adalah Mickey Barnes, seorang kru pesawat luar angkasa yang bertugas melakukan segala macam pekerjaan berbahaya. Setiap kali Mickey mati, tubuhnya dicetak ulang dan memorinya di-upload ke tubuh baru. Tubuh lamanya dibuang ke lubang pembakaran.
Film ini sungguh cengengesan. Seperti waktu para pekerja turun ke kantin parkiran saat jam makan siang dan melempar lawakan ke satu sama lain untuk menertawai nasib dan kelelahan diri mereka sendiri hari itu. Sungguh tak serius di tengah situasi yang demikian serius.
Leluconnya dimulai saat kita melihat Mickey mati lewat berbagai cara: kena virus di planet baru, jadi kelinci percobaan vaksin, radiasi, gas beracun. Tubuh baru Mickey keluar mesin cetak seperti kertas yang keluar printer lalu jatuh ke lantai. Dia mati saat para ilmuwan sibuk merayakan pencapaian terbaru mereka, dan dia ‘lahir kembali’ saat para ilmuwan sedang main game. Hidup dan mati yang tak ada artinya, dipertontonkan dengan ringan.

BBC menyebut film ini ‘bingung’ dan ‘tak tahu pendekatan apa yang ingin diambilnya’, sementara buatku lelucon Bong Joon Ho seratus persen sadar ia konyol dan seratus persen masuk di akal. Penulis di BBC itu tak mengerti apa yang begitu lucu. Memang karena film ini terasa seperti sepotong inside joke, seperti gurauan yang hanya berlaku bagi orang-orang tertentu, seperti tatapan jahil yang dilempar dari ujung ruangan dan ditangkap oleh sekongkolnya di ujung yang lain, seperti gelegar tawa yang disembunyikan dari para atasan kita.
Di film itu, dunia tak lagi dapat ditinggali dan orang-orang nekat berebut ikut ekspedisi ke luar angkasa dan bersedia membayar apa saja. Bahkan dengan harga dirinya. Politisi fasis. Teknologi absurd. Misi pengambil-alihan planet baru yang kejam. Bong Joon Ho sedang mencemooh dunia nyata.
Bukankah CNBC Indonesia baru melaporkan bahwa 12 ojol tewas karena kelelahan dan kelaparan, dan di Instagram orang-orang berkomentar “salah sendiri” sebagai respon-nya? Sama seperti ojol, Mickey secara sukarela sepakat menjadi seorang ‘expendable‘, seorang yang dapat dikorbankan, seorang yang bertugas untuk mati lagi dan lagi berulang kali demi kepentingan perusahaan dan masyarakat. Ia menandatangani dokumen itu tanpa paksaan, kan? Salah sendiri.
Orang-orang putus asa dan teknologi canggih yang dikontrol para penguasa demi keuntungan adalah kombinasi yang sudah sering diceritakan literatur dan film fiksi ilmiah. Tapi bukannya berjalan ke arah sebaliknya, dunia ini malah mencoba menjiplak klise itu semirip mungkin. Bahkan untuk kebegoan, kita tak bisa orisinil. Bisa apa lagi kita selain mengolok-olok diri sendiri?
“It would be a shame not to explore the potential application of this advanced technology,” kata film itu lagi, beberapa detik setelah kita melihat bagaimana seorang psikopat menggunakan mesin itu untuk menciptakan alibi buat hobi membunuhnya. Hahaha.
Bong Joon Ho sendiri mengatakan bahwa dalam menulis skrip film Mickey 17, ia sedang mencoba untuk membuat sesuatu yang tak bisa dibuat AI. Wah. Bong Joon Ho saja berusaha agar dirinya tak tergantikan. Agar tak menjadi seorang ‘expendable‘. Aku agak sedih saat membaca pengakuannya, karena jelas aku akan tetap membaca roman picisan mudah ditebak yang ditulis manusia daripada mahakarya buatan mesin tukang colong penyedot energi.
Lagipula buat apa manusia berusaha membedakan dirinya dengan mesin di saat mesin sengaja dibuat untuk terus meniru manusia? Sampai kapanpun itu akan jadi petak umpet yang tak pernah selesai.
Pembuatan mesin yang disengaja mirip manusia akan selalu digandrungi pengusaha yang punya fetish bikin untung tanpa pekerja dan filsuf yang punya fetish mendefinisikan ulang kemanusiaan dan arti kehidupan untuk buku terbarunya, sementara banyak desa di pelosok masih belum melihat listrik atau layanan kesehatan, dan monyet-monyet melihat rumahnya ditebang dan harimau melihat tanahnya gundul dan ikan-ikan mati mengambang di laut.
MIT Technology Review memaparkan bagaimana AI membutuhkan jumlah energi “yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Unprecedented. Namun para orang pintar di MIT itu tetap meyakini bahwa AI “tak bisa terhindarkan”, atau unavoidable, yang artinya kehendak bebas manusia atau free will yang diagung-agungkan peradaban Barat itu hanyalah dongeng belaka. Di forum-forum, orang-orang pintar lain sibuk mendiskusikan permen… eh, maaf – insentif atau stimulus macam apa yang bisa kita tawarkan supaya perusahaan-perusahaan teknologi bisa lebih manis dan sopan dan tidak merusak segala apa yang disentuhnya.
Begitulah. Desa-desa yang nantinya tenggelam karena krisis iklim mungkin cuma akan bisa menonton Mickey 17, menertawai nasib diri sendiri yang menjadi “expendables” untuk kemajuan zaman rakus energi yang tak terhindarkan itu. Oh ya, lupa. Mereka mungkin tak bisa menonton juga, soalnya tak ada listrik. Semua listrik dipersembahkan di altar AI.
Dengan demikian mungkin mereka akan tenggelam dalam kesunyian, dan akhir film Mickey 17 dimana mesin sialan itu dihancurkan jadi kepingan dalam ledakan hanya akan menjadi adegan fiksi yang memuaskan orang-orang yang tak bisa dibuang, orang-orang yang tak bisa digantikan.




Leave a comment