Aku Punya PhD di AI. Tolong Berhenti Tanya Cara Pakai ChatGPT

by

in

Antonia Timmerman menerjemahkan tulisan Sheilla Njoto, seorang ahli AI dari University of Melbourne. Tulisan asli Sheilla, berjudul “Stop asking me how to prompt ChatGPT: Reflections from a PhD in AI”, dimuat di blog pribadinya pada 4 April 2025.


Jika kau hanya sibuk mengulik cara pakai ChatGPT, maka kau tak paham inti masalahnya. Jika kau hanya menyalahkan pengguna, maka cobalah berpikir lebih jauh lagi.

Ketika orang tahu aku punya PhD di bidang AI dan kemasyarakatan, reaksinya selalu bisa ditebak: “Oh, bagaimana cara memberikan instruksi kepada AI… cara yang lebih tepat?” 

Kemudian, datang bertubi-tubi kehebohan itu:

“Udah coba custom GPT belum?”. 

Lihat gak, peralihan dari model multimodal ke omnimodal?”.

“Bisa gak, tulisan AI-nya dibuat seperti gaya Taylor Swift ketemu McKinsey?”

Ini bukan hanya menyedihkan. Tapi menghina. Keahlian di bidang AI telah direduksi menjadi bagaimana merangkai perintah supaya sepotong mesin bisa menari. Seolah pengetahuan hanyalah tentang mengutak-atik input, bukannya memeriksa dampak. Seolah revolusi hanyalah tentang berbagi tips dan trik, bukan tentang mempertanyakan sistem-sistem kekuasaan, etika, dan bagaimana sistem-sistem itu dapat merusak.

Aku merasa malu, bukan akan hasil kerjaku sendiri, tapi akan ekspektasi orang dari keahlianku.

Ya, AI sedang maju — tapi kebanyakan, AI hanya sedang memajukan kapitalisme. 

Dalam lima tahun terakhir, kita melihat gelombang produk-produk yang diiklankan sebagai “terobosan”: dari AI generatif hingga agentic AI, yang tiap peluncurannya dibungkus oleh tampilan UX yang licin mengkilap, dan dijual sebagai kemajuan zaman. Namun coba bongkar kata-kata manis itu dan kau akan menemui gombalan tua yang sudah pernah kita lihat sebelumnya: produktivitas, kecepatan, kenyamanan. Sebenarnya ia hanyalah rayuan kapitalisme dengan jaringan syaraf.

Strategi marketing perusahaan dan media-media teknologi telah menjual kepada kita sebongkah mimpi: masa depan dimana kita dapat melakukan lebih banyak, lebih cepat, dengan lebih sedikit usaha. Kini, kata mereka, kau bisa menyusun kode, merancang, menulis novel, menyulap kontrak, esai — merajut kehidupan — dalam hitungan menit. 

Bagian paling menggoda dari mimpi itu adalah bagaimana ia dipersembahkan sebagai “demokratisasi”. Keterampilan dan bakat, tiba-tiba jadi milik semua orang. Kedengaran sangat mulia. Seperti dewi keadilan bergaun kode komputer.

Sebenarnya ia hanyalah rayuan kapitalisme dengan jaringan syaraf.

– Sheilla Njoto

Aku tak mengatakan itu sepenuhnya salah, aku memang mengakui potensinya. Tapi kita harus bertanya: siapakah yang menyusun semua narasi ini? Siapakah yang mendengungkannya paling kencang? Apakah para pengguna yang mencari pembenaran untuk kecanduan mereka pada alat-alat yang tak bisa mereka lepas lagi? Atau tim produk yang meyakinkan diri sendiri bahwa mereka sedang membebaskan dunia, sambil mengeruk keuntungan dari segala kepayahan planet ini? 

Tolonglah. Simpan saja pitch deck itu. 

Keahlianku bukan pada merangkai instruksi untuk mesin, melainkan dampak mesin itu pada *kemasyarakatan*. Keahlianku bukan tentang bagaimana memeras output yang lebih banyak dari sebuah chatbot, tapi tentang menelusuri bagaimana sistem-sistem AI ini membentuk (ulang) masyarakat. Menelusuri pola-pola tersembunyi. Keahlianku bukanlah tentang trik memangkas waktu kerja, tapi tentang pengorbanan apa sebenarnya yang harus dibayar oleh manusia saat memakai mesin-mesin ini. Apa yang hilang dari budaya kita? Apa yang harus dibayar oleh kehidupan sosial kita?

Kau mungkin mengira bahwa aku adalah orang pertama yang naik kereta sensasi AI itu. Aku sudah mencoba alat-alatnya, itu benar. Tapi aku juga orang pertama yang bertanya: Apa dampak mesin ini kepada kita? Bagaimana ia mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri, terhadap satu sama lain, dan terhadap dunia di sekitar kita?

Izinkan aku memaparkan risetnya sejauh ini. 

Saat digunakan dalam perekrutan, AI menghukum calon pekerja perempuan lebih sering daripada calon pekerja laki-laki. Sistem filter resume itu dibangun di atas data yang bias terhadap perempuan yang memiliki pengalaman kerja setara dengan laki-laki. Menariknya, pekerja laki-laki yang kerap mengambil cuti untuk keperluan keluarga malah dihukum lebih keras lagi oleh sistem ini. 

Pola kerja sistem AI itu memperkuat anggapan bahwa kegiatan merawat keluarga tak bisa akur dengan ambisi di kantor. Sistem perekrutan seperti seperti itulah — apakah ia otomatis atau manual — yang membuat perempuan terpaksa berhenti bekerja. Bukan karena ia sukarela.

Saat digunakan dalam aplikasi kencan, AI bukan hanya merefleksikan kembali bias di dunia nyata — ia juga memperkuat bias itu. Secara global, perempuan kulit hitam dan laki-laki Asia mendapatkan match paling sedikit di banyak aplikasi kencan. Perempuan berusia lebih tua lebih tak laku dibandingkan laki-laki berusia lebih tua. Pengguna dengan identitas gender lebih cair harus masuk dalam kotak-kotak gender yang kaku. Profil dengan kualitas feminin di-hiperseksualisasi, sementara profil dengan kualitas maskulin dianggap memberikan stabilitas. Algoritma itu tak hanya memilah-milih — ia menghakimi. 

Dalam pekerjaan, AI tidak memperbaiki kondisi yang buruk — ia malah membuatnya semakin intens. Kelelahan diukur dalam kedok optimasi. Tenaga kerja tak lagi dinilai dari setinggi apa kepedulian dan kehati-hatian yang ia berikan ke dalam pekerjaannya, namun semata dari hasil akhir.
Dalam kreativitas, pencurian itu terlihat lebih halus, namun sebenarnya sangat meluas. Hasil karya para seniman dan penulis dikuras, ditiru, dan dikemas ulang tanpa persetujuan mereka. Saat OpenAI meniru gaya Miyazaki, mereka tak sedang mengapresiasi pencapaian seni Miyazaki — mereka menjadikannya kosong. Filosofi yang terkandung dalam karya itu, setiap sapuan kuasnya, konteks budayanya — semua dihapus. Apa yang disebut “peningkatan kreativitas” (“creative augmentation”) ternyata hanya penghapusan budaya.

Ada banyak lagi yang terjadi di belakang panggung AI. Pekerja-pekerja tak terlihat, termasuk pekerja data asal Kenya yang dibayar kurang dari $2 per jam untuk menyortir konten-konten yang bisa memicu trauma. Server yang haus energi dan menyedot air di wilayah yang rawan kekeringan. Jejak karbon dari melatih satu model AI yang ternyata melebihi jejak karbon lima mobil selama keseluruhan masa pakainya. Inilah biaya-biaya yang harus kita bayar di balik segala tampilan licin teknologi itu. 

Maka, ini bukan hanya tentang bagaimana menggunakan AI. Ini tentang sistem yang mewajibkan penggunaannya. Ketika produktivitas berarti kelangsungan hidup, maka tak ada ruang untuk mempertanyakan apapun. 

Biar aku tegaskan bahwa aku bukan anti-AI. Aku percaya AI dapat digunakan untuk kebaikan. Namun tak seperti ini. 

Tidak di dunia dimana suara-suara terlantang adalah mereka yang terlindungi dari bahaya-bahayanya. Dimana perusahaan-perusahaan besar mengeruk untung dari model-model AI “terbuka” sambil diam-diam menimbun kekuasaan. Dimana prinsip etika hanyalah kotak untuk dicentang sambil lalu dan bukannya penuntun utama. Dimana industri-industri harus dirancang ulang demi keluaran produksi jangka pendek, bukan dampak jangka panjang.

Menggunakan AI

Jangan pakai metafora bahwa AI adalah “Layaknya pisau yang bisa dipakai untuk memasak atau membunuh”. Ini karena bahaya dari sistem-sistem AI bukan hanya berasal dari bagaimana kita menggunakannya, melainkan juga pada mengapa kita dipaksa untuk menggunakannya. 

Banyak pengguna memang tak pernah berpikir ke sana. Namun, itu bukan selalu karena kecerobohan mereka. Seringnya, itu karena mereka tak punya pilihan. Mereka terlanjur terseret ke dalam pusaran itu, pusaran yang menekan untuk menghasilkan lebih banyak, mengoptimalkan lebih banyak, dan ber-kinerja lebih banyak. Mereka bukanlah pihak yang berdaya. Mereka adalah yang tereksploitasi.

Para pengguna ini bukanlah early adopters riang yang dipamerkan oleh perusahaan teknologi dalam slide presentasi. Mereka adalah tulang punggung sistem yang tak terlihat — terlalu banyak bekerja, kewalahan, dan bergantung pada jalan pintas hanya untuk bertahan hidup. Jika kau berpacu dengan waktu hanya untuk membayar sewa rumah, maka “efisiensi” bukanlah pilihan. Itu adalah penolongmu. 

Kemudian, ada juga para kreator. Kreator yang terjebak dalam lingkaran yang tak pernah mereka setujui. Mereka menggunakan AI generatif untuk memprediksi tren, untuk membuat konten, dan untuk mengalahkan konten yang dihasilkan AI generatif. Itu semua bukan kreativitas—itu adalah sebuah krisis yang disamarkan. Sebuah permainan tanpa garis akhir. Namun siapa, sebenarnya, yang kita lawan?

Maka ini bukan hanya tentang pilihan pribadi. Itu sebabnya aku tak menyalahkan individu yang bergantung pada AI. Kemampuan seseorang untuk memilih dan bertindak, atau agensi, tidak terbentuk dalam ruang hampa. Ia sangat dipengaruhi oleh struktur. Struktur tersebut bersifat sistemik, korporat, dan dirancang dengan sengaja.

Sayangnya, AI tidak dirancang untuk mereka yang punya waktu untuk berpikir. AI diciptakan untuk melayani mereka yang tak punya waktu. 

Orang-orang yang paling bergantung padanya bukanlah kaum elit, namun mereka yang bekerja berlebihan, yang kekurangan sumber daya, dan yang terus-menerus kewalahan. Bisa memilih untuk tidak ikut dalam gilingan AI adalah sebuah keistimewaan. 

Punya lebih banyak waktu berarti Anda bisa berpikir. Punya lebih banyak uang berarti Anda bisa mendelegasikan. Kebebasan dari sistem itu sendiri merupakan kemewahan. Dan itulah mengapa ini bukan masalah individu, melainkan masalah kolektif.

Nah, lain kali kau bertemu denganku, jangan tanya tentang prompt AI, tanyakanlah ini: “Bagaimana kita bisa merebut kembali kekuasaan dengan agensi yang masih kita miliki?”

Setiap jalan pintas dibangun menggunakan waktu, energi, martabat, atau tanah orang lain. Jika sesuatu terasa terlalu mudah, tanyakan siapa yang sebenarnya membayar kemudahan itu.

– Sheilla Njoto

Aku tidak ada di sini untuk membuat kau lebih baik dalam menggunakan AI. Aku di sini untuk bertanya mengapa kita terus menggunakannya tanpa mempertanyakan hal-hal sulit.

Inilah satu hal yang harus kau ingat: di ​​era AI, jangan hanya bertanya apa yang dapat kau lakukan dengan mesin ini. Tanyakan apa yang kau rela korbankan untuk terus memakainya, dan, akan jadi orang macam apakah dirimu ketika kau berhenti mempertanyakan hal ini.

Sebagai seseorang yang benar-benar mendalami bidang AI, berikut lima hal yang kusarankan untuk kau renungkan:

Penggunaan AI ≠ Kebijaksanaan

Hanya karena sesuatu itu baru—atau populer—tidak berarti itu perlu. Tanyakan: Masalah apa yang dipecahkan oleh mesin itu? Siapa yang memutuskan yang mana masalah, yang mana bukan?

Kenyamanan punya harga

Setiap jalan pintas dibangun menggunakan waktu, energi, martabat, atau tanah orang lain. Jika sesuatu terasa terlalu mudah, tanyakan siapa yang sebenarnya membayar kemudahan itu.

Akses ≠ Ekuitas

Hanya karena lebih banyak orang dapat menggunakan alat tersebut tidak berarti kekuasaan sedang dibagi rata. Kepemilikan tetap penting. Begitu pula niat. Juga aturan yang dimasukkan ke dalam sistem atau alat tersebut.

Hasil ≠ Dampak

Hasil jangka pendek sering kali menyembunyikan konsekuensi jangka panjang. Hanya karena sesuatu “berfungsi” sekarang tidak berarti itu membangun masa depan yang lebih baik. Mengukur dampak yang sebenarnya seharusnya tak hanya melihat apa yang dihasilkan sekarang, tapi apa yang dihasilkan sebagai balasan apa yang kita berikan.

Sebelum Anda memuji, tanyakan siapa yang diuntungkan

Jika AI membuat hidup Anda lebih mudah—tanyakan: dengan mengorbankan siapa? Dan jika AI tidak melayani Anda—lalu apa, atau siapa, yang sebenarnya dilayaninya?


Literasi bukan hanya tentang mengikuti perkembangan terkini. Literasi juga adalah tentang memberi ruang bagi ketidaknyamanan. Literasi juga adalah tentang menolak mengartikan kecepatan sebagai kebijaksanaan. Dan yang terpenting, literasi adalah tentang mengutamakan agensi — kemampuan kita untuk memilih dan bertindak — di atas otomatisasi.


Leave a comment