Disrupsi Itu Tak Lagi Keren

Written by:

Dulu, mendengar kata disrupsi membuat mataku membelo dan mulutku membentuk huruf “o”. Kata itu sering diucapkan oleh kakak-kakak bertitel CEO atau Founder yang duduk dengan kaki disilang di atas panggung dan berkaos santai, mic di tangan.

Siapa yang tidak kagum. Mereka ingin mendisrupsi industri. Memberikan jari tengah pada pemain-pemain besar yang memonopoli. Membereskan masalah yang tak pernah dibereskan tanpa berbelit, dan dengan kecanggihan teknologi yang mereka bangun sendiri. Punk sekali. Betul, banyak masalah di kota (dan pelosok) yang buat orang jengah. Maka misi mulia teknologi harus disambut dengan bersemangat. Orang jadi punya harap lagi.

Kemudian, suatu hari aku bangun dan menemukan diriku menatap layar segala ukuran dari pagi hingga malam untuk segala macam kegiatan: memesan makanan, memesan kopi, mengecek media sosial, melihat email, meeting, bermain game, membalas pesan, mendaftar rumah sakit, wawancara, membaca e-book, membeli makanan kucing, menulis, bahkan berolahraga.

Jika hidup masyarakat adat terhubung langsung ke tanah tempat tinggalnya, maka hidupku terhubung langsung ke internet – sebuah mata air hidup buatan yang ditopang jutaan buruh digital minim hak dasar dan pemborosan energi. Aku melihat ke luar jendela dan bertanya-tanya apakah dunia yang kulihat ini simulasi.

Aku mulai membolak balik buku catatan. Melihat lagi ke belakang mumpung belum terlalu jauh berjalan. Adakah sesuatu yang kita lewatkan? Hal-hal yang luput dari pertimbangan?

Ah, ya. Ini dia. Ketika internet baru meluas, sengaja kita tak mengindahkan suara-suara sangsi, suara-suara ragu yang menunjuk pada: “Bagaimana dengan privasi kita? Bagaimana dengan data yang kau ambil? Bagaimana dengan kecanduan?” Semua itu dikecil-kecilkan karena bersanding dengan janji akses informasi dan pengetahuan yang lebih merata.

Internet meluas terus, dan pada tiap pos perkembangannya, mulai dari Facebook yang mendisrupsi alur informasi, Uber yang mendisrupsi transportasi, Amazon yang mendisrupsi cara berbelanja, hingga kini AI yang mendisrupsi… segalanya (?), suara-suara ragu yang mengiringinya semakin mengabur. Siapa yang bisa menahan kebelet dunia untuk menikmati janji pertumbuhan ekonomi dan kemajuan yang mengkilap itu?

Jika ada masalah, maka barang tentu itu urusan pengguna masing-masing. Jadilah pengguna yang bijaksana dan tahu batas, seperti para pencipta teknologi yang bahkan tak mengizinkan anak-anaknya sendiri bermain gawai.

Bill Gates, Steve Jobs, dan semua yang kita sembah itu dikagumi karena menjadi orangtua low-tech. Ya, ketika mereka yang melakukannya (dan membicarakan tentangnya, dan mencari institusi-institusi pendidikan yang mendukung gaya mendidik itu), itu bukan karena mereka anti-teknologi, tapi karena mereka cerdas dan bijaksana. Kita rakyat jelata? Tentu saja kita *harus* segera menguasai segala gawai terbaru lebih cepat dari terjangan harimau kelaparan. Jangan coba-coba meragukan keperkasaan teknologi.

Jangan juga coba-coba menanyakan suatu pertanyaan sederhana ketika sepotong teknologi baru hadir: “Setelah menghamburkan segalanya ke udara, kapan kita akan membangunnya kembali?”

The disruption is the point. Tidakkah kamu tahu?

Mengencangkan skrup-skrup dan mengecat tembok dan menghias pojok-pojok ruangan dan menata buku-buku tidak memerlukan kegagahan otot dan palu, dan dunia ini telah membeli palu sangat besar dan sangat mahal. Sayang kalau tidak dipakai. Tak perlu lah menyiram dan menunggu suatu tunas tumbuh. Pakai palu ini. Harganya puluhan miliar dolar. Pasti dapat membereskan apapun juga.

Demikianlah kita diharapkan membangun rumah dan isinya hanya dengan palu, dan jika kita protes atau meminta yang lain, kita akan dicap anti-palu.

Kita tertipu. Kita menyangka disrupsi berarti menghancurkan sistem yang tak berpihak pada masyarakat, dan melindungi sistem yang sudah bekerja dengan baik. Yang terjadi malah sebaliknya.

Menarik dicatat bahwa *disrupsi* kini bukan hanya tren atau gaya idaman atau kata-kata yang diberi panggung arus utama, namun sudah menjadi sebuah virtue, sebuah nilai moral yang tak dapat diganggu gugat. Tentu saja maksudnya disrupsi ala penguasa, seperti disrupsi hak-hak pekerja yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun, bukan disrupsi ala demonstrator atau warga yang “mendisrupsi” kegiatan perusahaan di kampungnya.

Maka bagiku sendiri saat ini kata disrupsi di atas panggung itu tak lagi keren. Sedari awal ia tak pernah keren, karena memang menata jauh lebih sulit daripada menghamburkan.

Langganan?

Aku akan mengabarimu tiap kali ada tulisan baru. Gratis dan akan selamanya gratis :|

Leave a comment