Mengapa segalanya harus di-digitalisasi? Itu pertanyaan pemantik yang diajukan Ellena, fasilitator kami di lokakarya Purplecode Collective Sabtu lalu. Sinar matahari jatuh pada kepala-kepala yang berkumpul di pekarangan kecil di tengah rumah itu.
Kami berenam – Shahbanu, Vita, Madina, diriku sendiri, Adip, dan Allysa – dihadapkan pada pertanyaan demikian lantaran kamilah orang-orang yang pada sesi hari itu mengajukan diri untuk menghadapi persoalan teknologi pada tingkat perancangan (desain). Kelompok lainnya bergulat dengan persoalan di bidang pengadaan material, penggunaan, dan pengelolaan limbah teknolgi.
Satu persatu, kami mulai angkat bicara. Sebelum menjawab mengapa, kami mulai dari apa dulu. Apa yang salah dari serba digitalisasi?
Shahbanu mendeskripsikan pengalamannya mengakses layanan kesehatan publik yang wajib dilakukan lewat aplikasi. Ia bertanya: lantas bagaimana nasib orang-orang yang tak memiliki gawai? Atau internet? Kami mengangguk sambil sibuk mencatat di buku masing-masing.
Adip ingin bicara tentang interface, yakni rancangan tampilan yang menuntun interaksi pengguna dengan sebuah perangkat. Rancangan itu kerap dibuat licik: memudahkan ketika mencari tombol berlangganan, menyulitkan ketika mencari tombol membatalkan langganan.
Vita kemudian menunjuk pada rancangan perangkat yang tanpa rasa. Lack of purpose, katanya. Semua dibuat untuk tujuan efisiensi tok, seakan penggunanya bukan manusia yang punya kebutuhan lain.
Lucunya, tujuan efisiensi pun seringkali gagal dicapai! Timpal Madina. Kami tertawa, masing-masing mengingat keputusasaannya sendiri kala layar penting itu menunjukkan tanda error yang berarti keperluan yang tak bisa dituntaskan karenanya, dan hidup yang tak bisa berlanjut karenanya.
Aku sendiri mengajukan dua hal: algoritma yang diktatorial dan ekstraksi data masif yang memungkinkan kehidupan digital kita hari ini. Kita kecanduan di media sosial, dan ojol dikerjai algoritma di jalanan, kataku.
Kekuatan mendikte teknologi digital ini berasal dari pengambilan data secara masif. Dengan mengambil data sebanyak mungkin, perusahaan teknologi jadi tahu bahan-bahan candu paling ampuh untuk kita: iklan yang menggiurkan, konten-konten pendek namun terus silih berganti, bergulir, tanpa akhir. Peramu candu personal dalam ponsel.
Data sebanyak itu disimpan di mana? Tentu saja di bangunan pusat-pusat data yang menguras banyak sekali air dan energi. Infrastuktur fisik yang memperparah krisis iklim global.
Dari penimbunan data tak terkirakan inilah AI generatif dapat lahir. Sebuah keberlanjutan eksponensial dari segala yang salah dengan teknologi digital saat ini: candu, ekstraksi, kerusakan lingkungan.
Mungkin itulah mengapa semua harus di-digitalisasi. Mereka telah memiliki samudera data itu, yang terus menerus dapat ditambang demi keuntungan, tak peduli apa ongkosnya.
Mendengar penjelasan itu, Allysa mengatakan: “Bagiku kedengaran seperti kolonialisme,” dan ia benar. Inilah kolonialisme yang didandani menjadi “kehidupan modern”.
Dibangun di atas keringat jutaan pekerja digital dan pelanggaran hak pengguna di seluruh dunia, keuntungan dari industri teknologi digital pada bentuknya saat ini hanya dinikmati oleh segelintir perusahaan raksasa, bertumpuk di rekening dan kapal yacht dan halaman-halaman luas mansion milik segelintir pucuk pimpinannya. Itulah kolonialisme yang sedang dilakukan Big Tech dan para kaki tangannya.
Madina mengusulkan bahwa pengembangan teknologi bergaya demikian mudah terjadi di dalam kultur industri yang seringkali “berlomba-lomba untuk jadi paling besar atau paling baru, dan memandang rendah merawat hal baik yang sudah ada sebelumnya. Semua ingin jadi pioneer dan meninggalkan legacy“. Kami semua setuju. “Übermensch,” sambar Vita. “Dominasi imajinasi Barat dan urban,” timpal Adip.
Narasi media arus utama tentang teknologi memang tampaknya didominasi oleh cara berpikir demikian. Dengan kondisi industri media yang sedang carut marut seperti saat ini (mungkin itu akan menjadi post tersendiri), sulit bagi media untuk melihat ke dalam dirinya sendiri dan melakukan koreksi. Media sedang sibuk bertahan. Bagiku, kegagalan media dalam menyuguhkan narasi yang berpihak pada kepentingan publik merupakan suatu kekecewaan mendalam, meski pun aku memiliki pemahaman tentang alasannya.
Aku sendiripun tadinya hendak pergi dari kegiatan jurnalistik dan mengurung diri, menulis fiksi. Namun, melihat kemunculan sensasi AI generatif dan absennya narasi penyeimbang, aku memutuskan untuk menulis apapun yang kubisa. Menghadirkan bahan informasi bagaimanapun bentuknya.
Ingatan akan diskusi di bawah sinar matahari di pekarangan rumah kecil itu memberiku rasa optimis dan dorongan baru. Gagasan-gagasan tentang teknologi yang lebih adil ini ada dan dibicarakan dengan hidup, penuh bersemangat, meski di pinggir-pinggir.




Leave a reply to Ariff Abdullah Cancel reply