Dua minggu aku absen menulis blog ini. Minggu pertama karena aku ada di meja operasi, dan minggu kedua karena aku malas. Sebenarnya saat inipun aku masih malas, tapi kalau tidak memaksa diri, rutinitas tidak akan terbentuk kembali. Berhenti sebentar karena alasan kesehatan memang selalu membuat rutinitas acak adut.
Dalam waktu bermalas-malasan ini aku sempat pergi mengunjungi Bu Darni, guru yang pernah mengajarku di SD Santa Ursula Jakarta. Dulu, setiap hari ia menumpang mobil keluargaku untuk berangkat ke sekolah, dan kami pergi ke paroki gereja yang sama (juga dulu – karena sekarang aku tidak ke gereja).
Bu Darni menderita diabetes, dan yang kudengar ia juga sempat mengalami stroke. Kunjunganku ini adalah yang pertama dalam kurang lebih sepuluh tahun, dan saat kutemui minggu lalu ia sudah dalam kondisi sangat pikun. Aku dan ibuku datang membawa buah-buahan.
Bu Darni bertanya apa yang kulakukan sekarang, dan aku menjawab “Menulis.”
“Oh ya, kamu memang suka menulis,” katanya.
Benar, ketika aku masuk SD, Bu Darni segera mengetahui bahwa di kelas, aku paling suka menulis. Dia mungkin orang pertama yang memberikan pujian untuk tulisan-tulisanku, dan karena itu aku jadi ingin menulis lagi dan lagi.
Bu Darni tidak pernah segan menggunakan kata-kata besar di hadapan anak-anak. Atau membicarakan konsep-konsep abstrak. Atau menanyakan pendapat kami tentang berbagai hal. Dia memberikan poin lebih ketika kami menjawab dengan tulus dan mengambil waktu untuk merenungkannya dalam-dalam, bukan sekadar membuka buku atau mengulangi kata orang dewasa lain.
Dengan demikian, di kelas Bu Darni, kami paling berharga ketika kami jujur, bukan ketika kami benar. Kami dapat merasa dengan bebas.
“Aku suka sekali caramu melewati semua pergumulan itu, lalu menutupnya dengan sebuah rasa kemenangan,” kata dia lebih dari dua puluh tahun lalu saat mengomentari tulisan yang kubuat untuk perpisahan angkatan. Umurku dua belas tahun.
Maka minggu lalu saat aku duduk di lantai ruang tamu milik Bram, anak Bu Darni, sementara ia duduk di kursi roda, aku ingin sekali memberitahunya tentang apa yang kurasakan di dunia saat ini.
Aku ingin memberitahunya bahwa ternyata di dunia nyata, tidak semua pergumulan berakhir dengan kemenangan. Dan sekarang aku tidak bisa terlalu jujur sepanjang waktu. Ternyata, menjadi dewasa berarti berbohong dari waktu ke waktu, terutama di pekerjaan.
Ya, aku tidak bisa masuk ke sebuah forum dan mengatakan terus terang apa yang kurasakan tiap kali kudengar kata “inovasi” dan “adaptasi”: keinginan luar biasa kuat untuk memutar bola mata ke pojok terdalam kelopak. Yang kurasakan ketika kudengar kalimat “perkembangan zaman yang tak terhindarkan”? Keinginan yang hampir melumpuhkan untuk merebut mikrofon dan berteriak “fucking lies!”
Aku ingin mengadu pada Bu Darni bahwa orang-orang yang berkuasa sedang dengan sengaja merancang dunia agar makin sulit ditinggali. Mereka membangun teknologi-teknologi yang merusak lingkungan, yang mengambil otonomi banyak orang, yang men-subjugasi banyak kelompok, yang melecehkan kesenian dan kebudayaan, yang mengeksploitasi pekerja, yang membunuh, yang melanggar privasi, yang berusaha me-monetisasi segala aspek kehidupan manusia, dan memanggil semua itu harga dari kecanggihan.
Kesenjangan makin jauh jaraknya. Mereka mengatakan inilah “inovasi”. Mereka mengobral “adaptasi” supaya kita tak protes.
Aku melihat orang-orang dibunuh di layar kecil di tanganku. Aku melihat anak-anak muda berkemeja putih berebut cari pekerjaan. Aku melihat kawinan seharga lima puluh lima juta dolar Amerika. Aku merasa… marah sekali.
Aku ingin mengatakan semua itu dan mengajak Bu Darni berdiskusi. Tapi aku tak punya waktu banyak. Ingatan Bu Darni hilang setiap lima atau sepuluh menit. Jadi sebelum aku harus memperkenalkan diriku lagi untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa mengatakan: “Bu, aku tidak tahu bagaimana lagi caranya jadi diriku di dunia yang saat ini.”
Ibu Darni menjawab, “Mungkin kamu harus ‘menjadi kembali’. Tahu kamu?”
Aku menggeleng.
“Becoming again. Melahirkan dirimu kembali. Temukan hal-hal yang membuat hatimu bebas dan lakukan saja.”
Bu Darni memandangku dari kursi roda dan berkata: “Kamu harus jadi bebas.”
Aku mengerti, Bu Darni. Lahiran pertama adalah ketika aku keluar dari kantor media dan menjadi jurnalis lepas. Lalu, setiap kali aku menulis dari hatiku, aku melahirkan. Hatiku bebas.
Aku hanya ingin mengeluh. Mengapa harus kulakukan berkali-kali dan sampai kapan? Kadang aku hanya ingin jadi trophy wife, kau tahu kan?
Tapi Bu Darni sudah mulai bertanya siapa namaku lagi dan apa yang kulakukan sekarang. Dan aku menjawab lagi, “Menulis.”
“Oh ya, kamu memang suka menulis,” katanya.
Setiap kali Bu Darni bertanya apa yang kulakukan sekarang, aku selalu menjawab, “Menulis.”
Demikianlah sore itu berlalu hingga kami pamit untuk pulang. Aku berjanji pada Bu Darni untuk membawakan bahan bacaan lain kali, meskipun aku tidak tahu apakah dia masih bisa membaca.




Leave a comment