Selama satu minggu ini aku sudah main ke Glodok sebanyak dua kali. Yang terakhir untuk makan siang dengan kawanku Sylvie, Charlenne, dan Nessa lalu berkeliling, melihat toko bersejarah ini dan rumah bersejarah itu. Lampion merah bergantung di atas jalan-jalan dan di dalam gedung-gedung. Kunjungan sebelumnya lagi untuk menghadiri peluncuran buku foto.
Pecinan ini sangat tua. Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1740 untuk komunitas pendatang Tionghoa. Dalam perjalanannya ia menjadi pasar yang sibuk, kompleks yang ramai lalu lalang orang dan gerobak, hingga menjelma jadi pusat elektronik dan makanan. Lalu, e-commerce datang dan menggilasnya.
Sebenarnya aku pernah menulis tentang ini tiga tahun lalu. Seingatku tulisan itu lebih panjang, namun rupanya sudah dipotong oleh media yang menerbitkan.
Di naskah asli aku sempat memasukkan sepotong wawancara dengan seorang warga lokal bernama Yosef. Ia mengatakan, masa jaya Glodok sebagai pusat belanja mulai terasa pudar sejak peristiwa 1998. Penjarahan, pembakaran kios-kios, dan kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa membuat banyak orang pergi.
Tahun 2010an, orang mulai belanja di website e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan Lazada. Sinar Glodok kian redup. Puncaknya adalah ketika pandemi menjadikan orang diam di rumah dan semakin menggandrungi belanja online.
“Glodok sudah mau mati,” kata Yosef saat itu. Ia sendiri punya beberapa toko di Glodok.
Sejak kemunculannya, rupa-rupa e-commerce itu tak hanya menggilas yang bukan dirinya, tapi juga bertarung untuk hidup dan mati di antara sesamanya. Saling makan. Saling jegal. Saling kawin lalu cerai. Melakukan apa saja untuk tak hanya sekadar bertahan, namun menjadi yang paling dan paling. Paling besar dan paling wah.
Tokopedia merger dengan Gojek menjadi GoTo. Tokopedia diakuisisi Tiktok. Shopee memindahkan karyawan ke Solo dan Yogyakarta demi hemat ongkos. Bukalapak berhenti menjual barang fisik dan mulai berdagang pulsa dan voucher game. Yang terbaru, burung membawa kabar lagi dan mengatakan Grab akan mencaplok GoTo.
Tak ada yang tahu apa ujungnya. Mungkin satu atau dua raksasa yang terbuat dari gabungan potongan tubuh tiga atau empat perusahaan. Seperti monster di Frankenstein.
Di Glodok sendiri banyak anak-anak pemilik toko sudah tak mau meneruskan. Tembok-tembok toko sudah reyot dan menghitam. Suara bising tawar menawar antara penjual dan pembeli sudah tak terdengar lagi. Toko yang masih buka menjual barang-barangnya untuk pelanggan tak kelihatan di balik telepon atau di balik layar.
Selepas wawancaraku dengan Yosef kala itu, ia menitip pesan agar Glodok diperhatikan supaya jangan mati. Sayang sekali, sejarahnya banyak di sini, katanya.
Baru-baru ini memang muncul usaha untuk membawa kehidupan kembali pada Glodok. Bos Charlenne yang seorang seniman, Metta Setiandi, telah membangun sebuah ruang untuk aktivitas penelitian, seni, dan budaya di Glodok.
Metta juga seorang warga lokal. Ia mengadakan acara-acara sambil menyajikan kopi, teh, dan kue Prancis. Desain tempatnya anggun dan halus.
Apakah usaha itu bisa sukses memicu detak jantung kampung ini kembali, musti kita tunggu untuk dapat melihat. Dan jika berhasil, kehidupan baru bagaimana yang akan bertumbuh? Sementara ini aku menganggap ruang apapun yang dapat membuat orang menaruh telepon genggamnya di kantong dan bersosialisasi adalah baik.








Leave a comment