Akhirnya aku keluar dari hutan belantara memburu deadline dan bisa menulis blog ini lagi. Deadline itu mati tepat waktu lalu kugotong pulang untuk menyantap dagingnya. Pekerjaan riset lepas, kalau kau ingin tahu.

Ya, beginilah sejak 2016 hingga sekarang. Kerja-kerja tak ada ikatan atau maksimum sebagai tenaga kontrak kecuali untuk periode hampir dua tahun pada 2018-2019. Gig work di dalam gig economy.

Waktu pertama mendengar istilah itu, diam-diam aku bertanya apakah disebut demikian karena ia membuat banyak orang giggling, cekikikan geli, saat tahu mereka tak diberi jaminan asuransi, pensiun, ataupun bonus tahunan, dan bisa sewaktu-waktu diterminasi tanpa pesangon? Giggle economy.

Koran-koran luar negeri mengatakan internet membuat gig work marak. Bisa bekerja sesuka hati dan tanpa bos! Seru sekali. Terima kasih, Uber dan Amazon, kata mereka. Koran-koran dalam negeri mengatakan internet membuat ojol naik kelas. Terima kasih, Gojek dan Grab, kata mereka.

Waktu berlalu dan ternyata bekerja tanpa jaminan-jaminan itu tak seru. Juga ternyata, ada mandornya, hanya saja berupa algoritma yang tahu-tahu bisa menggembok akun. Ternyata, ojol jadi harus menerjang jalanan lebih lama tiap hari dan freelancer jadi harus bekerja di akhir pekan. Upah ditipiskan pelan-pelan. Tak terasa.

Siapa yang menyangka? Bukankah waktu ojek pangkalan memprotes kemunculan aplikasi, kita memandang mereka penuh rasa kasihan karena merekalah manusia ketinggalan zaman dan tak mengerti teknologi?

Lagipula, begitu kan cara teknologi dapat maju: dengan pengorbanan kita semua, seperti yang dicontohkan nabi Mark Zuckerberg saat ia tiba-tiba membuat aktivitas pengguna Facebook dapat dilihat real time oleh pengguna lain dalam sebuah terobosan bernama News Feed, membuat orang malu dan marah, meminta maaf namun tetap mengembangkan media sosial bergaya voyeurisme tersebut, mematangkan ekosistem informasi dimana privasi adalah pajangan antik di dalam kardus di gudang, dimana sensasi adalah mata uang, sehingga lapaknya makin gaduh dan makin ramai dan akhirnya ia bisa membangun rumah mewah di tanah yang diambilnya dari penduduk asli Hawaii?

Aku membaca buku berjudul Blood in the Machine. Buku ini mengatakan, para perajin tekstil di abad ke-19 di Inggris menghancurkan mesin-mesin penenun. Pengusaha bermodal besar menghadirkan mesin-mesin itu untuk mengambil pekerjaan mereka, mencemooh keterampilan yang telah mereka latih bertahun-tahun, memaksa mereka masuk pabrik, dan mempermalukan mereka dengan upah yang tak cukup untuk makan.

Perajin dan pekerja tekstil ini memanggil dirinya “Luddites“, pengikut Ned Ludd, seorang pemimpin misterius yang keberadaannya tak dapat dibuktikan oleh sejarawan manapun. Ned Ludd bisa jadi tak nyata. Ia hanya dipakai untuk mempersatukan gerakan.

Luddites mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dan menyerang pabrik-pabrik pada malam hari. Dengan palu, tongkat, pisau, dan pistol, mereka merusak mesin-mesin itu. Pesan mereka jelas: jangan kau ambil upah dan makna kerja kami dengan mesin ini. Suasana di tahun-tahun itu mencekam. Banyak pekerja mati dibunuh.

Kerajaan Inggris menurunkan mata-mata dan pasukan untuk menumpas pembangkangan Luddites. Demikianlah Revolusi Industri berlanjut di atas darah pekerja, kualitas tenun yang menurun, dan keterampilan yang hilang. Dua ratus tahun kemudian, jika kau gagap memakai teknologi terbaru atau sekadar tak menyukainya, orang akan memanggilmu Luddite.

Namun aku jadi tahu, ternyata, tak ada yang baru dari giglenomics ultramodern yang diceramahkan Big Tech lewat mesin-mesin digital ini. Para techbro itu dapat bicara tentang AI generatif yang menjanjikan ini itu hingga bulan dan bintang, menakut-nakutimu dengan zaman yang berlari meninggalkan, dan aku hanya ingin tertawa terbahak-bahak. Aku menyibak tirai dan menemukan trik murah pesulap itu.

Semua hanyalah intensifikasi, elaborasi dari lagu lama kapitalisme yang umurnya ratusan tahun. Kau dibuatnya berpikir punya pilihan. Kebebasan. Kau dibuatnya berpikir memiliki banyak hal, dari film hingga musik, namun sebenarnya kau hanya “ngontrak“. Jika Netflix atau Spotify memutuskan membuang hiburan kesukaanmu dari platform, apa yang dapat kau lakukan? Sama seperti pekerjaan yang dapat di-delete begitu saja.

Maka, di pagi hari saat kuminum kopi dari cangkir dan membaca ramalan Bill Gates tentang punahnya profesi guru dan dokter gara-gara AI dan bahwa mungkin hanya olahraga seperti baseball saja yang tak tergantikan robot, aku mau cekikikan. Bayangkan. Bapak tajir melintir ini berpikir bahwa semua manusia dimotivasi oleh uang belaka, seperti dirinya.

Guru dan dokter harus dibayar layak, itu pasti. Namun Bill Gates lupa bahwa mungkin, mungkin, ada hal lain yang memotivasi manusia dalam bekerja. Mungkin, ada guru yang jadi guru karena ia senang anak-anak. Mungkin, ada dokter yang jadi dokter karena ia senang sains dan ingin membantu orang lain dengannya. Layaknya penulis menulis karena ia senang menulis, dan tukang gambar menggambar karena ia senang menggambar.

Mungkin, manusia menyukai sebuah kegiatan karena memberinya rasa puas, atau kebanggaan. Segalanya tak melulu dilakukan karena uang. Bekerja bukan hanya soal produksi, produksi, produksi. Menghabiskan waktu lambat-lambat merangkai materi di tangan sehingga menghasilkan sepasang sepatu yang dapat dijual, itu juga kerja. Sang artisan bisa jadi menyukai waktu yang lambat itu, bergulat dengan rancangannya.

Menurut Bill Gates, karena segala kegiatan dan kreasi tak bermakna apa-apa lagi selain uang, maka tak ada yang salah dengan merampas semua kesenangan jiwa itu hanya supaya kita semua bisa bersantai di kursi malas dan menghabiskan hari-hari kita menonton… baseball. Itu lucu sekali.

Gigglenomics.

Langganan?

Aku akan mengabarimu tiap kali ada tulisan baru. Gratis dan akan selamanya gratis :|

Leave a comment