Oke. Tentu saja aku melebih-lebihkan posisi ke-pinggiran-ku. Bagaimanapun aku orang di Ibu Kota dengan akses internet. Di kota, aku jurnalis yang sudah menulis untuk outlet publikasi dengan corong suara ke ratusan ribu hingga jutaan pembaca. Aku tidak di pinggir-pinggir amat.

Tetap saja, ini kota besar. Influencer, media arus utama, dan figur-figur publik yang punya buku dan jutaan pengikut hilir mudik. Aku berada di tepi panggung milik mereka, berusaha menjajakan gagasan-gagasan yang tak selalu laku di pasar yang ramai ini. Saat tulisanku berhasil masuk media, seringkali itu adalah kemenangan dari proses panjang. Itupun sudah dipotong sana sini lalu dibentuk ulang menurut cetakan sang penjaga gerbang panggung. Juga aku tak punya hasrat menaklukkan algoritma supaya “konten”-ku ke tengah panggung. Ya Tuhan, aku benci sekali kata “konten”.

Maka, blog ini adalah tepian dari sebuah panggung yang sudah di tengah. Serupa lapak kecil di pinggir panggung utama itu, yang kian hari makin diisi oleh paduan suara yang itu-itu saja, yang tampilan gagasannya makin seragam.

Blog ini adalah cara lebih cepat menyampaikan gagasan supaya pikiran tidak mampet, namun lebih lambat daripada posting di Instagram atau Twitter supaya pendapat lebih matang.

Blog ini juga upaya untuk melawan kecanduan media sosial, serta menahan impuls untuk menghasilkan konten-konten pendek yang hanya akan jadi rongsokan puing informasi di internet. Mencoba kembali pada waktu dunia maya masih menyenangkan.

Aku akan menulis refleksi tentang apapun itu yang menarik perhatian, utamanya teknologi, kehidupan urban, dan para penguasanya – topik yang memang sudah sering kubahas di media sosial.

Semoga lapak ini berkenan (kalau tidak, silakan jalan terus, jangan buat macet).

Langganan?

Aku akan mengabarimu tiap kali ada tulisan baru. Gratis dan akan selamanya gratis :|

Leave a comment